Laman

Minggu, 18 Juli 2010

Lupa bawa Kolekte...............



Sore itu dalam suatu persekutuan oikoumene saya duduk disamping seorang tante yang sudah cukup berumur. Tante ini termasuk anggota oikoumene yang setia.  Menjelang akhir  ibadah, kantong  kolekte di edarkan. Sementara kantong itu belum sampai ke tempat duduk kami, aku melihat tante ini sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya. Kegelisahan mulai terpancar dari raut wajahnya yang mulai keriput. Dengan diam-diam terus kuperhatikan dia. Saya jadi tidak tega dan ingin tahu apa yang dia cari.
“Tante, ada sesuatu yang dicari?”
“Iya. Saya rasa tadi dompet sudah saya masukkan ke dalam tas , ternyata belum. “
Sayapun tahu arah pembicaraannya.
“Tidak apa-apa Tante,…besok-besok lagi masih ada kolekte kok.” Kataku menenangkan.
”Tapi,…saya jadi nggak enak.”
“Nggak apa-apa Tan…”
                   Akhirnya kantong itu hanya numpang  lewat di depan tante tersebut. Saya mengira masalah itu telah selesai. Ternyata belum bagi tante itu. Ketika snack dibagikan, tante itupun menolak mentah-mentah. Sayapun jadi sedikit heran dengan sikap tante yang saya anggap agak berlebihan. Meskipun saya paksa untuk menerima, tante itu tetap tidak mau.  Saya tidak tahu persis alasan dia menolak snack, tapi saya kira masih ada kaitannya dengan dompetnya yang ketinggalan  sehingga ia tidak dapat memberi kolekte. Iapun pulang dengan membawa ‘rasa bersalah” karena tidak memberi kolekte.
Malam itu juga saya melupakan peristiwa  tersebut  dan sama sekali tidak mengingatnya. Hal yang biasa jika uang ketinggalan lalu tidak bisa memberi kolekte. Ternyata,………………masalah itu belum juga selesai bagi tante yang setia itu. Hari Senin  sekitar jam tujuh pagi, tante itu datang kerumah.  Ia menyerahkan sebuah amplop lengkap dengan namanya yang tertulis, amplop itu di-lem rapat.
“Bu,… saya nitip persembahan saya yang kemarin lupa itu ya….”
Dengan sedikit heran, kuterima amplop itu.
“Wah..tante memang hebat. Tante sangat menghargai perkara rohani, .” kataku sambil mengacungkan jempol.
“Iya,..saya nggak enak sama Tuhan. Saya yang salah, karena saya tidak meneliti apa yang harusnya saya bawa di dalam tas.”
Singkat cerita, tante itu pulang dengan hati yang lega alias plong.
,..terkadang kita menganggap hal yang biasa jika kita lupa membawa kolekte atau malah pura-pura lupa supaya kantong pribadi tetap terisi tak peduli dengan kantong kolekte yang melintas di depan kita.  Hari itu saya mendapat pelajaran yang berharga.  Tante itu  menghargai perkara rohani dan mengerti makna Firman Tuhan yang mengatakan “ Janganlah ia menghadap hadirat Tuhan dengan tangan hampa” (Ulangan 16:16b). ada sesuatu yang bisa kita bawa ke hadirat Tuhan. Selain hati kita, juga sebagian berkat-berkat yang Tuhan telah berikan yaitu persembahan.  Seberapa seriuskah selama ini kita mengganggap  tentang kolekte atau persembahan?  Memang Tuhan tidak memandang seberapa besar yang dapat kita beri. Tuhan lebih melihat sikap hati kita dalam memberi. Tetapi jika sikap hati kita lurus dihadapaNya dan kita mengasihiNya, maka tak mungkin kita tidak memberi . Toh..apa yang kita miliki, semua  adalah pemberian Tuhan. 
Jika menghargai perkara rohani, maka kita tidak akan melupakan hal-hal semacam itu. Mestinya sudah kita persiapkan dari rumah. Jangan pura-pura lupa,..karena dihadapan Tuhan tak ada sesuatupun yang tersembunyi, termasuk sikap hati yang tak seorangpun tahu. Ada orang yang sangat memperhatika masalah uang kolekte. Uang itu sedapat mungkin yang terbaik, tidak sobek atau kumel (supaya bendahara tidak pusing,  hehehe…). Jumlahnyapun perlu dipertimbangkan. Apakah layak kita memberi persembahan seperti kita memberi tukang parkir? (uang parkirpun sekarang sudah naik?), atau seperti memberi pengamen?    Oh…tidaklah yao…….Tuhan layak menerima semua yang terbaik dari kita.  Dan saya percaya Tuhan memperhatikan dan menghargai sikap hati kita yang terpancar melalui cara kita memberi.  
Kecuali kalau memang tidak punya uang untuk kolekte, itu lain cerita. Jangan jadikan itu sebagai alasan untuk tidak datang beribadah.
Marilah kita terus belajar menghargai perkara rohani “…sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Kor 9:7).

Lupa bawa Kolekte...............



Sore itu dalam suatu persekutuan oikoumene saya duduk disamping seorang tante yang sudah cukup berumur. Tante ini termasuk anggota oikoumene yang setia.  Menjelang akhir  ibadah, kantong  kolekte di edarkan. Sementara kantong itu belum sampai ke tempat duduk kami, aku melihat tante ini sibuk mencari sesuatu dari dalam tasnya. Kegelisahan mulai terpancar dari raut wajahnya yang mulai keriput. Dengan diam-diam terus kuperhatikan dia. Saya jadi tidak tega dan ingin tahu apa yang dia cari.
“Tante, ada sesuatu yang dicari?”
“Iya. Saya rasa tadi dompet sudah saya masukkan ke dalam tas , ternyata belum. “
Sayapun tahu arah pembicaraannya.
“Tidak apa-apa Tante,…besok-besok lagi masih ada kolekte kok.” Kataku menenangkan.
”Tapi,…saya jadi nggak enak.”
“Nggak apa-apa Tan…”
                   Akhirnya kantong itu hanya numpang  lewat di depan tante tersebut. Saya mengira masalah itu telah selesai. Ternyata belum bagi tante itu. Ketika snack dibagikan, tante itupun menolak mentah-mentah. Sayapun jadi sedikit heran dengan sikap tante yang saya anggap agak berlebihan. Meskipun saya paksa untuk menerima, tante itu tetap tidak mau.  Saya tidak tahu persis alasan dia menolak snack, tapi saya kira masih ada kaitannya dengan dompetnya yang ketinggalan  sehingga ia tidak dapat memberi kolekte. Iapun pulang dengan membawa ‘rasa bersalah” karena tidak memberi kolekte.
Malam itu juga saya melupakan peristiwa  tersebut  dan sama sekali tidak mengingatnya. Hal yang biasa jika uang ketinggalan lalu tidak bisa memberi kolekte. Ternyata,………………masalah itu belum juga selesai bagi tante yang setia itu. Hari Senin  sekitar jam tujuh pagi, tante itu datang kerumah.  Ia menyerahkan sebuah amplop lengkap dengan namanya yang tertulis, amplop itu di-lem rapat.
“Bu,… saya nitip persembahan saya yang kemarin lupa itu ya….”
Dengan sedikit heran, kuterima amplop itu.
“Wah..tante memang hebat. Tante sangat menghargai perkara rohani, .” kataku sambil mengacungkan jempol.
“Iya,..saya nggak enak sama Tuhan. Saya yang salah, karena saya tidak meneliti apa yang harusnya saya bawa di dalam tas.”
Singkat cerita, tante itu pulang dengan hati yang lega alias plong.
,..terkadang kita menganggap hal yang biasa jika kita lupa membawa kolekte atau malah pura-pura lupa supaya kantong pribadi tetap terisi tak peduli dengan kantong kolekte yang melintas di depan kita.  Hari itu saya mendapat pelajaran yang berharga.  Tante itu  menghargai perkara rohani dan mengerti makna Firman Tuhan yang mengatakan “ Janganlah ia menghadap hadirat Tuhan dengan tangan hampa” (Ulangan 16:16b). ada sesuatu yang bisa kita bawa ke hadirat Tuhan. Selain hati kita, juga sebagian berkat-berkat yang Tuhan telah berikan yaitu persembahan.  Seberapa seriuskah selama ini kita mengganggap  tentang kolekte atau persembahan?  Memang Tuhan tidak memandang seberapa besar yang dapat kita beri. Tuhan lebih melihat sikap hati kita dalam memberi. Tetapi jika sikap hati kita lurus dihadapaNya dan kita mengasihiNya, maka tak mungkin kita tidak memberi . Toh..apa yang kita miliki, semua  adalah pemberian Tuhan. 
Jika menghargai perkara rohani, maka kita tidak akan melupakan hal-hal semacam itu. Mestinya sudah kita persiapkan dari rumah. Jangan pura-pura lupa,..karena dihadapan Tuhan tak ada sesuatupun yang tersembunyi, termasuk sikap hati yang tak seorangpun tahu. Ada orang yang sangat memperhatika masalah uang kolekte. Uang itu sedapat mungkin yang terbaik, tidak sobek atau kumel (supaya bendahara tidak pusing,  hehehe…). Jumlahnyapun perlu dipertimbangkan. Apakah layak kita memberi persembahan seperti kita memberi tukang parkir? (uang parkirpun sekarang sudah naik?), atau seperti memberi pengamen?    Oh…tidaklah yao…….Tuhan layak menerima semua yang terbaik dari kita.  Dan saya percaya Tuhan memperhatikan dan menghargai sikap hati kita yang terpancar melalui cara kita memberi.  
Kecuali kalau memang tidak punya uang untuk kolekte, itu lain cerita. Jangan jadikan itu sebagai alasan untuk tidak datang beribadah.
Marilah kita terus belajar menghargai perkara rohani “…sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Kor 9:7).

Tulus Hati



“Lihat , Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala
 ,sebab itu hendalah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati."
Matius 10:16

Ketulusan hati merupakan salah satu sifat baik yang disukai banyak orang dan salah satu sifat yang dibutuhkan dalam menjaga suatu hubungan.  Karena dengan ketulusan,seseorang merasa aman dan dihargai dengan keyakinan tidak di bohongi atau dibodohi.  Orang yang tulus hati tidak suka mengada-ada, berpura-pura, mencari alasan atau  memutar balik fakta ; tetapi dengan kasih mengatakan yang sebenarnya tanpa bertendensi apapun.
Ketulusan hati berdasarkan Firman Tuhan yang mengatakan,”Jika ya, hendaknya kamu katakan ya ; jika tidak hendaknya kamu katakan tidak.  Lebih dari itu berasal dari si jahat”[Matius 5:37].  Dengan kata lain sebenarnya jika kita tidak tulus hati, kita merupakan mitra dari si jahat yang merupakan bapa segala pendusta [Yohanes 8:44].
Tidaklah mudah untuk memiliki hati yang tulus ; membutuhkan kejujuran pribadi. Juga tidaklah mudah menemukan hati yang tulus.  Tuhan Yesus berkata bahwa hidup kita sebagai anak tebusan seperti domba di tengah-tengah serigala.  Artinya dunia yang telah jatuh dalam dosa hanya dipenuhi dengan topeng ketulusan tetapi sebenarnya “ganas” seperti serigala.  Tidaklah mudah menemukan ketulusan hati seperti  merpati di tengah-tengah serigala.  Karena nyaris sama antara domba dan serigala yang berbulu domba.  Tapi hati keduanya jauh berbeda.
Tuhanlah yang menjadi perisai yang menyelamatkan bagi orang yang tulus hati [Mazmur 7:11].  Ketulusan hati  salah satu karakter yang berkualitas.  Namun sangatlah penting ketulusan hati seperti merpati disertai kecerdikan seperti ular supaya ketulusan hati tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri dan supaya tidak dimanfaatkan oleh orang yang berhati serigala.
Seperti Yesus yang tulus mengasihi kita, marilah kita juga belajar  memiliki hati yang tulus dalam mengasihi  dan menerima sesama kita.  Dan memohon hikmatNya [Yak 1:5] untuk menjadi cerdik supaya tidak di perdaya atau di mangsa serigala di sekitar kita. Akhirnya hanya orang yang tulus hati yang akan melihat Allah [Mazmur 11:7 ; matius 5:8].  YR

Jumat, 16 Juli 2010

Ekspresi Cinta


 Ekspresi Cinta
(By Yohana R)

“Suamiku tidak berkomentar apapun  ketika rambut aku cat high-light.  Malah orang lain yang bilang kalau aku bertambah cantik , nampak lebih muda. Padahal, aku pengin banget suami yang mengatakan itu. Eh,…dianya hanya memandangku sekilas, no comment. Kasihan deh aku.”  demikian ungkap temanku sebut saja Berta.  Dia bingung dan sedikit agak pusing dengan sikap suaminya yang cool dan sedikit cuek. Berta mengaku sudah berusaha seromantis dan semesra  mungkin untuk memancing kemesraan, tetapi suaminya tetap saja cool. Sang suami selalu bilang bahwa yang terpenting adalah tindakan nyata daripada banyak kata. Bagi suami Berta, ungkapan kata cinta dan sayang adalah sesuatu yang basi. Berta yang modis tak pernah mendapat komentar dari sang suami. Jika teman-teman berkomentar bahwa Berta tambah cantik dll, maka sang suami hanya tersenyum. Tapi jika dandanan Berta mulai berlebihan, suami hanya mengingatkan,”Ma,..ingat kamu ini bukan anak ABG lagi! “ Berta sudah cukup senang dengan teguran itu. Berta tak meragukan cinta suami karena tanggung jawab sebagai suami dan ayah sangat nyata dikehidupan mereka berumah tangga. Meski cool, tetapi sangat perhatian pada anak-anak. Diakui umum  ekspresi cinta suaminya nyaris tak  nampak. Tapi..…hadiah ulang tahun Berta dari sang suami tahun kemarin adalah jalan-jalan ke Eropa! Dan mereka hanya pergi berdua, anak-anak dititipin ke orang tua. Wow,…romantic  banget. Asyik kan?
Sementara temanku sebut saja Essa suaminya kelewat romantis serta sangat perhatian.  Essa selalu dipanggil dengan sebutan “darling”  meski dimuka umum sekalipun.  Bahkan suami Essa tak segan memujinya setinggi langit ketika berdiri didepan  orang banyak. Essa sering tersipu malu dengan pipi yang merona merah dengan pujian-pujian suaminya itu. Kadang aku bertanya  penasaran ,”Bagaimana ibu memperlakukan bapak hingga bapak memuji-muji ibu sedemikian rupa?” Essapun tersenyum sambil berujar malu, ”Ah,..biasa aja kok!”. Kejujuran dan keberanian sang suami dalam memuji-muji Essa di depan umum terkadang menimbulkan rasa iri di hati kami, kalangan kaum ibu tentunya. Kemesraan dan kehangatan kasih sayang mereka sangat nampak, meski anak-anak mereka telah beranjak dewasa. Essa juga jarang kelihatan sendirian, artinya sang suami selalu mendampingi meski hanya ke minimarket seberang jalan. Wah,...mirip  amplop dan perangko  ! Lengket terus.  Tentu saja Essa tidak meragukan cinta sang suami  meski ekspresi cinta kadang membuat tersipu-sipu malu di depan umum. Ke Singapura adalah hadiah ulang tahun sang suami buat Essa tahun kemarin. 
Lain halnya dengan temanku sebut saja Imma, seorang wanita karier yang gaul dan cerdas. Dia agak cuek dengan hal-hal seperti itu. Sekalipun demikian sebagai seorang wanita iapun butuh ekspresi kasih sayang dari suami.  Suatu hari Imma bercerita,” Dulu suami pernah memberikan setangkai bunga di hari ulang tahunku, tapi bunga plastik. Aku berterimakasih padanya, namun kukatakan dengan jujur kalau aku lebih senang dengan bunga  sungguhan yang masih segar. Kukira ia mengerti karena ia manggut-manggut. Aku lega banget. Tapi,..di moment yang lain kembali ia memberikanku bunga palstik. Katanya cintanya seawet bunga palstik tersebut! Ah,.  capek deh,…”.   Kendatipun demikian Imma yakin akan cinta suaminya seorang pekerja keras sebagai penanggung jawab keluarga ,yang selalu tak lupa mentransfer gaji ke rekening Imma tiap bulan dengan rutin. Meski bunga plastik yang diberikan tapi bunga bank tak pernah terlupakan. Perhatian pada anak dan penuh kasih sayang walau bingung mengekspresikan.
Temanku sebut saja Eny, ibu rumah tangga dengan suami yang tenang dan ramah.  Eny mengakui suaminya sangat perhatian dan lebih tenang dalam menghadapi setiap masalah, itu meneduhkan hatinya walau sang suami miskin dengan ungkapan cinta dan sayang. Bahkan sekalipun dipush suaminya bilang tak bisa berkata romatis dan mesra. Ketika merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka, temanku Eny sangat bersemangat sementara sang suami tenang dan biasa-biasa saja. Kami mengadakan game untuk ngerjain mereka. Kami berhasil membuat sang suami  mencium kening Eny.  Wah,..Eny serasa melayang  ke udara karena sang suami mau mencium didepan teman-teman. Tetapi sikap suaminya di keseharian jelas nampak seorang suami dan ayah yang bertanggung dan penuh perhatian. Bahkan Eny mengakui bahwa suaminya lebih pandai memasak daripada dirinya. Eny belajar untuk merasa cukup karena sang suami memang sangat mencintai keluarga walau ekspresi sangat minim tapi kasih yang nyata melimpah ia rasakan.
Ekspresi cinta memang tak selalu sama antara satu dengan yang lain. Cinta dan kasih sayang kadang tak selalu nampak oleh mata tetapi dapat dirasakan dihati.  Tanggung jawab, perhatian dan kepedulian adalah ekspresi cinta yang nyata dalam membangun rumah tangga.  Materi dan kecantikan fisik hanyalah polesan, yang terpenting adala hubungan hati ; suatu keintiman yang tidak dapat tergantikan dengan apapun (Efesus 5;22-23). Tuhan tidak pernah salah memberi pendamping hidup.
Lain lagi dengan suamiku yang terkenal romantis dan mesra. Ia memanggilku dengan sebutan “sayang” atau “cah ayu”  (itu kalau dirumah) kalau di depan umum ia memanggilku “dik” panggilan mesra ketika kami pacaran.  Ia juga tak enggan memujiku di depan teman-teman kami kalau sedang berkumpul.  Dia sering menyanyikan lagu-lagu cinta ala anak ABG yang sedang mabuk asmara. Hal ini kadang membuat iri teman-temanku. Dihari ulang tahunku kemarin di depan teman-teman kami ia memberi persembahan lagu “Dik” dari band  Wali (padahal dalam videoklip lagu itu yang perempuan sedang koma sampai tua). Tapi aku benar-benar merasa tersanjung dan teman-temanku bertepuk tangan riuh redan.  Kalau sedang libur, dia akan selalu mengikutiku dan akupun harus lebih banyak meluangkan waktu, pergi bersamanya walau hanya sekedar membeli pulsa.  Suamiku selalu bilang bahwa hanya ada dua wanita yang mengisi hatinya yaitu aku dan mboknya (ibu), anakku yang berumur lima tahunpun  sampai hafal kalimat bapaknya ini.  Maka akupun akan membalas bahwa hanya dia pria yang dihatiku, tak ada pria lain meskipun itu bapakku sendiri (karena bapakku sudah almarhumah). Tentu saja aku bersyukur untuk seorang suami yang Tuhan taruh di hidupku dan aku tak pernah meragukan cintanya. Suamiku kaya dengan ekspresi cinta, apalagi kalau sedang banyak duit ia akan makiiiin mesra,……Aneh tapi nyata.

Ekspresi Cinta


 Ekspresi Cinta
(By Yohana R)

“Suamiku tidak berkomentar apapun  ketika rambut aku cat high-light.  Malah orang lain yang bilang kalau aku bertambah cantik , nampak lebih muda. Padahal, aku pengin banget suami yang mengatakan itu. Eh,…dianya hanya memandangku sekilas, no comment. Kasihan deh aku.”  demikian ungkap temanku sebut saja Berta.  Dia bingung dan sedikit agak pusing dengan sikap suaminya yang cool dan sedikit cuek. Berta mengaku sudah berusaha seromantis dan semesra  mungkin untuk memancing kemesraan, tetapi suaminya tetap saja cool. Sang suami selalu bilang bahwa yang terpenting adalah tindakan nyata daripada banyak kata. Bagi suami Berta, ungkapan kata cinta dan sayang adalah sesuatu yang basi. Berta yang modis tak pernah mendapat komentar dari sang suami. Jika teman-teman berkomentar bahwa Berta tambah cantik dll, maka sang suami hanya tersenyum. Tapi jika dandanan Berta mulai berlebihan, suami hanya mengingatkan,”Ma,..ingat kamu ini bukan anak ABG lagi! “ Berta sudah cukup senang dengan teguran itu. Berta tak meragukan cinta suami karena tanggung jawab sebagai suami dan ayah sangat nyata dikehidupan mereka berumah tangga. Meski cool, tetapi sangat perhatian pada anak-anak. Diakui umum  ekspresi cinta suaminya nyaris tak  nampak. Tapi..…hadiah ulang tahun Berta dari sang suami tahun kemarin adalah jalan-jalan ke Eropa! Dan mereka hanya pergi berdua, anak-anak dititipin ke orang tua. Wow,…romantic  banget. Asyik kan?
Sementara temanku sebut saja Essa suaminya kelewat romantis serta sangat perhatian.  Essa selalu dipanggil dengan sebutan “darling”  meski dimuka umum sekalipun.  Bahkan suami Essa tak segan memujinya setinggi langit ketika berdiri didepan  orang banyak. Essa sering tersipu malu dengan pipi yang merona merah dengan pujian-pujian suaminya itu. Kadang aku bertanya  penasaran ,”Bagaimana ibu memperlakukan bapak hingga bapak memuji-muji ibu sedemikian rupa?” Essapun tersenyum sambil berujar malu, ”Ah,..biasa aja kok!”. Kejujuran dan keberanian sang suami dalam memuji-muji Essa di depan umum terkadang menimbulkan rasa iri di hati kami, kalangan kaum ibu tentunya. Kemesraan dan kehangatan kasih sayang mereka sangat nampak, meski anak-anak mereka telah beranjak dewasa. Essa juga jarang kelihatan sendirian, artinya sang suami selalu mendampingi meski hanya ke minimarket seberang jalan. Wah,...mirip  amplop dan perangko  ! Lengket terus.  Tentu saja Essa tidak meragukan cinta sang suami  meski ekspresi cinta kadang membuat tersipu-sipu malu di depan umum. Ke Singapura adalah hadiah ulang tahun sang suami buat Essa tahun kemarin. 
Lain halnya dengan temanku sebut saja Imma, seorang wanita karier yang gaul dan cerdas. Dia agak cuek dengan hal-hal seperti itu. Sekalipun demikian sebagai seorang wanita iapun butuh ekspresi kasih sayang dari suami.  Suatu hari Imma bercerita,” Dulu suami pernah memberikan setangkai bunga di hari ulang tahunku, tapi bunga plastik. Aku berterimakasih padanya, namun kukatakan dengan jujur kalau aku lebih senang dengan bunga  sungguhan yang masih segar. Kukira ia mengerti karena ia manggut-manggut. Aku lega banget. Tapi,..di moment yang lain kembali ia memberikanku bunga palstik. Katanya cintanya seawet bunga palstik tersebut! Ah,.  capek deh,…”.   Kendatipun demikian Imma yakin akan cinta suaminya seorang pekerja keras sebagai penanggung jawab keluarga ,yang selalu tak lupa mentransfer gaji ke rekening Imma tiap bulan dengan rutin. Meski bunga plastik yang diberikan tapi bunga bank tak pernah terlupakan. Perhatian pada anak dan penuh kasih sayang walau bingung mengekspresikan.
Temanku sebut saja Eny, ibu rumah tangga dengan suami yang tenang dan ramah.  Eny mengakui suaminya sangat perhatian dan lebih tenang dalam menghadapi setiap masalah, itu meneduhkan hatinya walau sang suami miskin dengan ungkapan cinta dan sayang. Bahkan sekalipun dipush suaminya bilang tak bisa berkata romatis dan mesra. Ketika merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka, temanku Eny sangat bersemangat sementara sang suami tenang dan biasa-biasa saja. Kami mengadakan game untuk ngerjain mereka. Kami berhasil membuat sang suami  mencium kening Eny.  Wah,..Eny serasa melayang  ke udara karena sang suami mau mencium didepan teman-teman. Tetapi sikap suaminya di keseharian jelas nampak seorang suami dan ayah yang bertanggung dan penuh perhatian. Bahkan Eny mengakui bahwa suaminya lebih pandai memasak daripada dirinya. Eny belajar untuk merasa cukup karena sang suami memang sangat mencintai keluarga walau ekspresi sangat minim tapi kasih yang nyata melimpah ia rasakan.
Ekspresi cinta memang tak selalu sama antara satu dengan yang lain. Cinta dan kasih sayang kadang tak selalu nampak oleh mata tetapi dapat dirasakan dihati.  Tanggung jawab, perhatian dan kepedulian adalah ekspresi cinta yang nyata dalam membangun rumah tangga.  Materi dan kecantikan fisik hanyalah polesan, yang terpenting adala hubungan hati ; suatu keintiman yang tidak dapat tergantikan dengan apapun (Efesus 5;22-23). Tuhan tidak pernah salah memberi pendamping hidup.
Lain lagi dengan suamiku yang terkenal romantis dan mesra. Ia memanggilku dengan sebutan “sayang” atau “cah ayu”  (itu kalau dirumah) kalau di depan umum ia memanggilku “dik” panggilan mesra ketika kami pacaran.  Ia juga tak enggan memujiku di depan teman-teman kami kalau sedang berkumpul.  Dia sering menyanyikan lagu-lagu cinta ala anak ABG yang sedang mabuk asmara. Hal ini kadang membuat iri teman-temanku. Dihari ulang tahunku kemarin di depan teman-teman kami ia memberi persembahan lagu “Dik” dari band  Wali (padahal dalam videoklip lagu itu yang perempuan sedang koma sampai tua). Tapi aku benar-benar merasa tersanjung dan teman-temanku bertepuk tangan riuh redan.  Kalau sedang libur, dia akan selalu mengikutiku dan akupun harus lebih banyak meluangkan waktu, pergi bersamanya walau hanya sekedar membeli pulsa.  Suamiku selalu bilang bahwa hanya ada dua wanita yang mengisi hatinya yaitu aku dan mboknya (ibu), anakku yang berumur lima tahunpun  sampai hafal kalimat bapaknya ini.  Maka akupun akan membalas bahwa hanya dia pria yang dihatiku, tak ada pria lain meskipun itu bapakku sendiri (karena bapakku sudah almarhumah). Tentu saja aku bersyukur untuk seorang suami yang Tuhan taruh di hidupku dan aku tak pernah meragukan cintanya. Suamiku kaya dengan ekspresi cinta, apalagi kalau sedang banyak duit ia akan makiiiin mesra,……Aneh tapi nyata.

Rabu, 14 Juli 2010

Sepakat


Mazmur 133:1-3
SEPAKAT
“Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-KU, disitu Aku ada ditengah-tengah mereka.” (Matius 18:20)

Sebagai ibu aku merasa gagal mendampingi putriku belajar ketika  ia mendapat nilai yang tidak baik. Dia harus mengikuti remidi beberapa mata pelajaran. Jujur saja aku merasa sedih dan terpukul. Sebab jika keadaan ini dibiarkan makadisemester selanjutnya ia pasti tidak akan naik kelas . hatiku terasa berat. Putriku mulai beranjak remaja, maka banyak gejolak yang ia alami .  Antara aku dan dia sering terjadi kesalah pahaman. Berbagai perasaan bercampur baur dihatiku antara merasa gagal, merasa salah, sedih dan kecewa. Suami menghiburku bahwa semua akan membaik dan dia berusaha berbicara dari hati ke hati dengan putriku itu, ia berjanji akan mulai serius belajar dan merubah sikap yang tidak baik yang seringkali menimbulkan kejengkelanku.  Ketika digereja Pendeta menantang kami (suami istri atau teman) yang dapat diajak sepakat mendoakan sesuatu yang menjadi pergumulan. Aku dan suami sepakat mendoakan putri sulungku itu. Hatiku terasa plong. Hati yang semula terasa berat kini terasa ringan. Aku merasa bahwa pergumulan ini bukan hanya aku yang menanggung tetapi juga suamiku. Kesepakatan diantara kami memberi kekuatan baru. 
Saudara, kesepakatan dua tiga hati  di dalam nama Yesus mempunyai kuasa untuk menggerakkan surga . Allah bertindak ketika kita ada kesepakatan, kesehatian, kerukunan. Bahkan Firman Tuhan dalam Mazmur 133 dikatakan Tuhan memerintahkan berkat turun atas umat yang bersehati atau bersatu, dengan  kata lain yang sepakat akan suatu hal. Kesepakatan membuat tujuan tercapai ; mimpi terwujud. Kesepakatan membuat beban yang terasa berat menjadi ringan. Kesepakatan memberi kekuatan baru menanggung suatu pergumulan.  Salah satu kendala kita tidak bisa sepakat adalah keegoisan kita pribadi. Oleh sebab itu rendahkan hati, singkiran ego pribadi dan buka hati untuk sepakat akan perkara yang benar.
Saudara,..carilah pasanganmu atau anakmu atau sahabatmu atau saudara seiman untuk sepakat. Bersepakatlah dalam doa. Maka percayalah apa menjadi pergumulan akan mendapat jawaban dari Tuhan.  Berani terima tantangan untuk sepakat? (YS)

Doa  : “Berikan teman yang dapat kuajak sepakat berdoa, karena disitulah sorgaMu
             bergerak.” 

Diskon Rohani


                                                              Diskon Rohani
“Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya,maka semuanya
  akan ditambahkan kepadamu” [Matius 6:33]




Orang rela berdiri diantrian yang panjang untuk membayar barang-barang yang diinginkan dengan harga diskon yang tinggi.  Diskon memberi harga yang lebih murah dari harga yang sebenarnya.  Hal itu banyak disukai orang.  Buktinya setiap toserba yang menggelar diskon besar akan menyerap banyak pengunjung dan peminat.  Seolah-olah diskon itu memberi keuntungan besar bagi para pembeli.
Banyak orang percaya mengunjungi Tuhan pada hari Minggu dan berharap mendapat berkat besar di seluruh hari-harinya.  Mereka mengunjungi dan memohon berkat, karena sebenarnya mereka menyadari hanya Tuhan sumber berkat itu.  Dan banyak orang menginginkan berkat dariNya,segala berkat yang diinginkan dengan harga diskon.  Berharap dengan hanya memberikan hari Minggu saja dapat memperoleh berkatNya di seluruh hari mulai dari Senin sampai Sabtu.  Meskipun hari Senin sampai Sabtu hidup dengan kehendak diri sendiri dan untuk diri sendiri.
Saudara,tidak ada diskon rohani.  Selalu ada harga yang harus dibayar penuh.  Jika kita meninginginkan berkat primer dan berkat tambahan kita harus mencari kerajaan Allah dan kebenaranNya di hari-hari hidup kita mulai dari hari Minggu ke Minggu berikutnya, dan demikian seterusnya.
Kita tidak bisa mengelabui Allah hanya dengan memberikan hati dan hidup hanya di hari Minggu saja.  Allah menginginkan seluruh hati dan hidup kita terfokuskan padaNya,pada kerajaanNya,pada perkara-perkara yang dari atas.  Meski bukan berarti kita harus hidup sepanjang hari di gereja.  Tetapi  memberikan prioritas untuk perkara kekal, karena Tuhanlah kebutuhan primer kita dan tak dapat di gantikan oleh apapun dan siapapun. 
Akhirnya, marilah kita menghadirkan kerajaanNya di seluruh hari-hari kita.  Baik dirumah.di tempat kerja,di masyarakat, dimana saja supaya nama Raja kita Yesus  Kristus dimuliakan dalam hidup kita.amin
                                                                                              YR